Rabu, 26 Oktober 2016

you're my everything

Dulu 
Seringkali aku meneteskan air mata
Entah itu karena ulahku atau apapun
Berkali-kali suaraku tersedu-sedu
Ku habiskan untuk merengek-rengek
Dulu
Aku tidak paham semua ini
Kenapa semua orang membiarkanku
Tak seorang pun peduli keberadaan ku 
Dalam gelap aku terus merengek
Tapi kini,aku menangis bukan karena salahku
Bukan karena nakalku
Tapi karena sebuah kalimat
Kalimat yang terasa sejuk di kalbu
Kerap kali nasihat keluar dari mulut ayah
Kalimat yang menekanku harus kuat
KAlimat yang menyanggahku tetap bertahan
Melewati apapun rintangan itu
Sabar,tawakal,perih dengan kesederhanaan
Kalimat itu yang sering kali ku dengar 
Dan sering pula membuatku menangis

Jumat, 14 Oktober 2016

Pendusta

Layaknya lubang kaleng
Kosong gelap tak rupawan
Tercampak di sudutan kota
Kau acuhkan aku dengan janjimu
Janji-janji sejak kau memilihku
Kini ruang itu tak berisi
Kau tuangkan janji bibirmu
Hingga meluap pada kedustaan
Hanya tersisa kepingan huruf
Teruntuk kau sang pendusta

                                                                            Angin Muson Barat 

Setiap tetesnya adalah anugerah
Setiap orang menikmati kedatangannya
Sisi lain orang menghujatnya
Mencela kerap dekatnya dengan udara

Tak lama awan hitam bersembunyi 
Malu akan tersambut sang mentari 
Perlahan kau memudar dari pandangan kami 
Padahal aku masih rindu kau selimuti