Siapa namaku dihadapanmu ?
Angin itu semkain kencang
Air yang tenang semakin deras
Percikan kaca yang perlahan menggores
Tak ada luka memang
Tapi entahlah...
Semua begitu cepat terasa sakit
Peranku hanya selembar daun benalu
Bukan sebagai sembunyian permata
yang tertutup jutaan butir pasir
Terlupakan memang
Teracuhkan sudah jelas
Karena liur yang jatuhpun akan terinjak
Sabtu, 10 Desember 2016
Rabu, 26 Oktober 2016
you're my everything
Dulu
Seringkali aku meneteskan air mata
Entah itu karena ulahku atau apapun
Berkali-kali suaraku tersedu-sedu
Ku habiskan untuk merengek-rengek
Dulu
Aku tidak paham semua ini
Kenapa semua orang membiarkanku
Tak seorang pun peduli keberadaan ku
Dalam gelap aku terus merengek
Tapi kini,aku menangis bukan karena salahku
Bukan karena nakalku
Tapi karena sebuah kalimat
Kalimat yang terasa sejuk di kalbu
Kerap kali nasihat keluar dari mulut ayah
Kalimat yang menekanku harus kuat
KAlimat yang menyanggahku tetap bertahan
Melewati apapun rintangan itu
Sabar,tawakal,perih dengan kesederhanaan
Kalimat itu yang sering kali ku dengar
Dan sering pula membuatku menangis
Jumat, 14 Oktober 2016
Senin, 19 September 2016
Tumpuan Langkah
Terbangun disepertiga malam
Ditengah suasana sunyi umumnya
Dalam hutan aku bernafas
Ku gesekan rumput pada telapak kaki
Dan ku turunkan sepasang mata kaki
Pada sungai kecil yang berkerikil
Terus menyusuri jejak arah
Setiap dataran menjadi tumpuan
Dibawah bulan yang bersinar sempurna
Gumpalan awan tergambar megah
Oleh sang arsitek yang maha indah
Bukan lagi soal perhitungan !!
Setiap ayunan yang terus melangkah
Harap ku kan menjadi sebuah ibadah
_cobantalun161718sept16_
Terbangun disepertiga malam
Ditengah suasana sunyi umumnya
Dalam hutan aku bernafas
Ku gesekan rumput pada telapak kaki
Dan ku turunkan sepasang mata kaki
Pada sungai kecil yang berkerikil
Terus menyusuri jejak arah
Setiap dataran menjadi tumpuan
Dibawah bulan yang bersinar sempurna
Gumpalan awan tergambar megah
Oleh sang arsitek yang maha indah
Bukan lagi soal perhitungan !!
Setiap ayunan yang terus melangkah
Harap ku kan menjadi sebuah ibadah
_cobantalun161718sept16_
Kamis, 15 September 2016
Sekedar Penat
entah apa yang dibenakku
semua masalah perlahan masuk
semakin dewasa semakin bertambah
menjadi pribadi yang baik itu amanah
menjadi pribadi yang baik itu amanah
bukan hal yang mudah bila harus berfikir
melangkah perlahan tanpa harus memforsir
berlari tanpa mengikat beban
berjalan terpikul arah dan tujuan
menjadi dua pilihan yang berlawanan
untuk berjumpa mimpi masa depan
Rabu, 14 September 2016
Senin, 12 September 2016
Welcome to my Gallery Sastra !! and this my profile.
Nama : Siti Masithoh “itoh”
Tempat,tgl Lahir : Subang,26 April 1997
Alamat : kp.Cikaum Girang rt/rw 06/03
ds.Cikaum Timur kec.Cikaum kab. Subang – Jawa Barat
Note : “Senang rasanya bisa bermain dengan jutaan
kata yang indah,yang kadang orang lain menganggap itu hal yang berlebihan.
Mengenal sastra dari sejak duduk di bangku sekolah dasar,sejak ibu sering
membelikan ku majalah bobo yang terdapat puisi-puisi indah dan aku pernah
menjadi juara 1 membaca puisi tingkat kecamatan. Setelah naik ketingkat SLTP
aku mulai jauh dari orangtua ku, dengan menulis sastra atas apa yang aku
rasakan selama jauh dari mereka itu bisa mengobati rasa rinduku kepada mereka.
Aku luapkan semua emosi ku diatas selembar kertas dengan ku gores pena yang
menari diatasnya. Sampai saat ini perasaan ku peka dengan segala hirup pikuk
yang ada di sekitarku, dan ku tuangkan dalam bahasa yang indah”.
#Part I
taukah
engkau ..
Ketika mata sudah tak bisa melihat keadaanmu ..
Tanganku tak bisa lagi menggenggam kedua telapak tanganmu..
Jariku rindu membelai raut wajahmu..
Ketika mata sudah tak bisa melihat keadaanmu ..
Tanganku tak bisa lagi menggenggam kedua telapak tanganmu..
Jariku rindu membelai raut wajahmu..
Bahkan aku
tak tahu keberadaan mu saat ini..
Sakit kah ?
Sehat kah ?
Entah lah ,
sejauh ini aku terus berjalan pada garisku..
Waktu yang
akan menegur rasa rindu yang terlalu lama ..
Kini usiamu
semakin menjauh dari hitunganku ..
Sampai
kapan kebersamaan kita akan abadi ?
Sampai
tuhan akan memanggil salah satu dari kita ..
Aku tak
ingin ada panggilan itu ( ego ku )
Biarkan
kebersamaan ini abadi
Sampai aku
menghiasi dua hati yang mulia ..
Salam
rindu, ku persembahkan pada tuhanku..
Untuk dua
makhluk yang senantiasa dijagaNya ..
Dengan
kasihku yang tak pernah pudar..
Ku kecup
dua telapak tangannya lewat bayang semu
Mamah & bapa
#Part II
AKU
RIANG
CAHAYA DATANG MENGHAMPIRI TIDURKU
MENYAPA EMBUN YANG MENETES DI SETIAP HELAI DAUN
BURUNG MENGEPAKAN SAYAPNYA DAN MENGERAMI TELURNYA
KU KIRA ADA DI BINGKAI DONGENG, TERNYATA TIDAK
TUHAN TAK PERNAH LELAH MENDENGARKAN HAMBANYA
WAKTU BUKAN LAH WAKTU
YANG PASTI ADA BATASNYA
DO’A SELALU TERMUNAJAT KEPADANYA
AKU RIANG, SAAT KU TAHU KABAR MU
KAU SELALU DIJAGANYA KAPAN PUN
SAMPAI AIR MATA KERING, KAU TETAP BAGIAN RANGKAI DO’AKU
TERIMA KASIH, KARENA KAU TELAH MENDENGAR SYA’IR KU
YANG KU ALUNKAN DALAM SETIAP GERAK SHOLATKU
MENYAPA EMBUN YANG MENETES DI SETIAP HELAI DAUN
BURUNG MENGEPAKAN SAYAPNYA DAN MENGERAMI TELURNYA
KU KIRA ADA DI BINGKAI DONGENG, TERNYATA TIDAK
TUHAN TAK PERNAH LELAH MENDENGARKAN HAMBANYA
WAKTU BUKAN LAH WAKTU
YANG PASTI ADA BATASNYA
DO’A SELALU TERMUNAJAT KEPADANYA
AKU RIANG, SAAT KU TAHU KABAR MU
KAU SELALU DIJAGANYA KAPAN PUN
SAMPAI AIR MATA KERING, KAU TETAP BAGIAN RANGKAI DO’AKU
TERIMA KASIH, KARENA KAU TELAH MENDENGAR SYA’IR KU
YANG KU ALUNKAN DALAM SETIAP GERAK SHOLATKU
#Part III
Dunia dan Mimpi
( Dunia mimpi )
Mimpi adalah
sebuah rencana yang tak terbatas ruang dan waktu
Saat kau
terlelap dalam hidupmu, maka bermimpilah sesukamu
Dunia adalah
makhluk yang selalu bersahabat
Ia tak
pernah melihat siapa yang menggenggamnya
Mengikuti
apa yang diinginkan oleh penggenggamnya
Saat mimpi
itu terwujud , dunia ikut senang
Karena telah
berhasil menemani sahabatnya dari nol sampai sukses
Suatu saat
ia menteskan air matanya
Ia tak ingin
lagi membantu sahabatnya itu, ia pun marah
Sahabat yang
ditemaninya selama ini telah putus asa
Mimpi-mimpinya
telah berhenti dan berlalu begitu saja
Kini tak ditemukan lagi mentari di
setiap pagi
Mega-mega telah memudar dan segera beranjak
Semangat menjadi putus asa
Mimpi menjadi semu belaka
Dan senyum menjadi tangis
Kemanakah dirimu yang dulu ?
Katakan padanya dunia merindukanmu
#Part IV
Persahabatankah
?
Ku
kira bunga mawar , ternyata hanya pucuk daun
Yang
pada waktunya akan menjadi besar dan tua
Mampu
mengisi botol yang kosong ?
Membasahi
tanah pun tak mampu
Tanah
yang digali untuk ditanami
Tepi
ternyata ditutup kembali dan diludahi begitu saja
Merasa selalu menetes disetiap lahan
kering
Selalu menjadi bakal bunga yang pasti
ada
Sebelum bunga itu mekar dan runtuh
Mengerti apa yang sekiranya dibutuhkan
Tau apa yang perlu di kendalikan
Seperti embun yang berusaha membasahi
permukaan daun
Sejak
zaman hawa pula semut akan selamanya kecil dan merasa kecil
Siap
jika harus terinjak makhluk besar
Aku
hanya lalat yang selalu hinggap pada kelemahanmu
Tak
pernah merasa bau dan jijik akan wujudmu
Dan
selamanya hati ini terbuka disetiap
keadaanmu
love you more friends
#Part
V
Sampai manakah batas memahami ?
Satu tahun bagiku bukan waktu yang lama
Bahkan aku masih sanggup berdiri 100 tahun di atas mata kakiku
Aku kira hanya awan putih yang berani menutupi badai
Dan hanya ayam yang bisa mengerami telur-telurnya
Memang perlu ..perlu topeng untuk menutup coreng diwajahku
Topeng yang selamanya akan melekat diwajahku
Daun kering yang berguguran takkan pernah tahu akan hadirnya
kelopak bunga
Mereka hanya menunggu saatnya untuk gugur
Dan mereka hanya menunggu saatnya untuk masuk ke lubang sampah
Terkadang aku bertahan dikala dingin menyelimuti malam
Tanpa tikar dan sehelai kain yang menghangatkan tubuh ini
Tak ada yang bisa mendobrak lubang yang tertimbun batu karang
Biarkan cacing – cacing yang mengisi setiap lubangnya
Dan aku sendiri
takkan pernah tau ..
Batas keteguhan
,kesabaran dan selalu menerima
Biarkan air yang
terus mengguyur bumi dengan badainya
Yang suatu saat
akan menguatkan ku
Walau ludah yang
tersiram dari dua bibir anak adam
Dan pasti akan
membasahi hati yang sedang kering dan rapuh
#Part VI
Di tengah gesekan daun yang berserakan ,aku
membisu pada ranting
Ranting yang sejak kecil bercabang mengikuti
alur batang pohon
Aku hanya ingin daun-daunku tumbuh subur
disetiap ujung rantingku
Menikmati siraman embun menjelang mentari
tiba
Menyambut sang surya yang menghangatkan
setiap makhluk bumi
Jeritan yang tak bernyawa meraung di bawah
lapisan langit
Tak satupun bintang yang menemani raungannya
Air yang menetes tanpa ada genangan yang
meninggalkan jejaknya
Benteng yang kuat mampu menahan gemuruh
dahsyat
Gemuruh yang berasal dari balik dada seorang
yang dianggapnya lemah
Tak ada sedikitpun retakan yang tergores di
benteng itu
Lampion kota mulai meredup di sudut kota
Tak ada lagi cahaya yang akan menghiasi
keindahan malam
Hanya ada separuh bulan yang termenung
sendiri
Menunggu bagian tubuhnya yang bersembunyi
dalam hitungan akhir bulan
Terlalu lama ia menunggu hingga fajar tiba
Fajar yang akan bersemayam dibalik harapan
Tak ada lahan untuk menggores amarah hingga
berbuah pada saatnya
Malam semakin larut dan dingin mulai menebar
hawanya disetiap goyangan rumput
#Part VII
suara gemuruh itu datang kembali
Sakit rasanya ...seperti
ditimpuk bola basket
Lupa dengan keadaan yang sekarang ini
Ini lah hidup dengan segala manis pahitnya
Bukankah sudah tau dengan problematikanya
Sakit, itu hal yang wajar bagi seorang yang baru memulainya kembali
Tapi entah kapan rasa sakit ini tetap nyaman dengan masanya
Tau kah? Setiap air yang keluar dari sudut mata adalah benih dari
keikhlasan
Haruskah mengenakan topeng untuk mengakhiri semua
Hanya dusta yang saat ini mampu menghentikan tangis
Berbohong untuk terlihat bahagia itu manis
Karena tak ada jalan yang menuju zona nyaman
Sejauh ini semuanya tetap sama seperti dulu
Obat yang pahit selalu terlihat manis
Karena ia tak ingin mengecewakan konsumennya terlebih dulu
Terenyum mamapu melupakan luka
Karena alam selalu bersahabat dengan orang yang selalu berusaha
untuk tersenyum
#Part VIII
Menyapa mu dalam hujan adalah hal yang indah
bagiku
Karena bersama hujan aku bisa melihat
besarnya arti pertemuan
Belajar ikhlas bersama langit yang dengan
mudahnya melepas hujan
Suatu saat kita akan bertemu dalam terang
Dibawah gumpalan awan putih kita akan
berteduh bersama
Satu hal yang ku takutkan, kita tidak akan
pernah bisa bersatu dalam do’a
Biarkan do’a ini yang ku panjatkan
padaNya,tanpa kau mengetahuinya
Sejauh ini hanya satu yang kuharapkan, kita
bisa bersatu dalam do’a
Dan biarkan sang kholik yang mendengarnya
Langganan:
Komentar (Atom)